Masuk Koran

hehehe akhirnya masuk koran juga
Koran Tempo edisi tgl 25 Oktober 2008 halaman B3
Ganteng juga ya saya kalau saya masuk koran
***narsis mode = On***

Thanks Mas Romi …

Share
 

Comments: 11

Leave a reply »

 
 
 

nyesel juga gak teko cak :( (
btw turut gembira lihat perkembangan kolektor..biso bikin senang banyak orang mudah2an.

 

Ga tau, terkontaminasi apa kaga. Tapi kalo terkontaminasi, mas Djoko harus tanggung jawab.. hehehe..

 

Mas aku nyesel ngga ikut karena aku sakit darti hari sabtu tipus lagi mas………………nyesel banget……….

 

Mas ijin copy foto korannya buat ngeblog he he. he he eh……

 

mantab kalee, masuk koran ni.. kapan thukul msk koran niy mas.. hihihi

*masih masuk angin :D

 

Ulama Harus Ikut Pikirkan Dampak Fatwa Haram Rokok

Meski masih dalam tahap wacana, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dikabarkan akan mengeluarkan fatwa haram merokok bagi umat Islam. Isu ini dapat menjadi kontroversi baru karena bisa membuat punahnya sebuah ekosistem dan komunitas yang sudah mapan.

Persoalannya, tentu adalah bagaimana mengatasi krisis yang terjadi pasca fatwa haram oleh MUI. Siapakah yang bertanggungjawab atas dampak negatif dari dikeluarkannya fatwa ini ? Apakah MUI juga sudah memikirkan dampak-dampaknya ?

Memang, seharusnya MUI ikut memikirkan dan turut bertanggungjawab atas dampak negatif yang ditimbulkan oleh fatwa ini. Sayangnya, pengalaman saat pelarangan Ahmadiyah yang memicu kekerasan antar kelompok beragama (yang menimbulkan kerusakan aneka fasilitas), peran MUI pasca pelarangan itu, secara sosial maupun ekonomis terkesan sangat kecil.

Padahal, jika fatwa rokok haram diluncurkan pun pasti dampak sosial ekonomisnya juga akan luar biasa besar. Rokok merupakan salah satu penyumbang devisa bagi negara, dan juga penyumbang berbagai kegiatan (sponsorship) bahkan dalam event resmi pemerintahan dan keagamaan.

Bukan itu saja, berapa juta orang yag akan mendapat kesengsaraan akibat masalah ini. Pengusaha dan karyawan pabrik rokok, meskipun banyak barangkali masih bisa dihitung. Tetapi, berapa jumlah tetangga kita yang menjadi tukang rokok di sepanjang jalan, tentu jumlahnya akan menjadi sangat banyak.

Dalam konteks ini, kita mengharapkan agar para ulama juga turut membantu memikirkan nasib dan masa depan jutaan komunitas manusia yang menggantungkan hidupnya kepada industri rokok. Terima kasih.

 

Yah ela papa…. Narsis amat gayanya…he…he…he…

 

sampeyan yang mana oom..?

*pura2 ga kenal*

 

mas.usaha rokoknya gmn stlah ada fatwa haram rokok??ada penurunan gak??
q pngen tw ada pngaruhnya g ceh rfatwa haram rokok

 

mending koleksi rokok aja jangan di isep berbahaya.

 

Bos diupdate bos. Situsku udah hidup lagi nih , .. hehe

 

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment