Sandra #1

Episode 1
Asap rokok memenuhi mobilku, batang demi batang aku hisap sambil mengemudikan X-trail di jalan Sudirman yang kosong karena hari sudah hampir pagi tapi nyala lampu kota dan gemerlap iklan-iklan masih bersinar dengan terangnya.
Aku terus mengemudi dan mengarahkan ke daerah Pejaten, sebuah town house yang aku beli, tidak begitu besar tapi lumayan mewah.
Mandi ya mandi, aku pengen sekali membasu tubuh ini yang kotor dan bau minuman keras, yang tidak tahu berapa banyak aku minum malam tadi.
Pintu gerbang aku buka dan memasukkan mobil ke carport, pusing kepala ini semakain menjadi-jadi, susah sekali aku menemukan kunci rumah di tas aku, setelah kutemukan segera saja aku buka pintu utama. Baru beberapa langkah masuk tiba-tiba ada benda yang menghantam kepalaku dan semua menjadi gelap.
Kepalaku masih pusing ketika aku tersadar, bau anyir darah dan debu menusuk hidungku, pelan-pelan kubuka mata ini, tanganku terikat dibelakang dan mulutku masih ditutup dengan pelester, perih disekujur tubuhku. Aku mencoba mengenali tempat ini, Gudang, ya sebuah gudang tua yang kosong.
Aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya, aku pulang sehabis menemani seorang bos sebuah perusahaan multinasional berpesta hingga menjelang pagi dan ketika akan masuk rumah aku dipukul di kepalaku dengan benda yang keras.
Pintu gudang terbuka, aku langsung berpaling kesana, seseorang masuk berkacamata, kurus, oh …. aku tau siapa dia, Gunawan …..
“Hai sayang !!!” Gunawan berteriak kepadaku
“Gimana rasanya ? sudah siuman kau rupanya. Inilah hadiah buat kamu yang membuat aku seperti ini.”
Dan … -Plak plak-
beberapa pukulan mendarat lagi dimukaku. Langsung gelap kembali ….
.
Episode 2
Sandra, mereka menamakanku demikian, keluargaku adalah keturunan Tionghoa, sejak kecil hingga remaja aku tinggal di sebuah kota kecil di daerah pegunungan di Jawa Timur.
“Sandra, yuk mlaku-mlaku” Tono kekasihku mengajak jalan-jalan.
“Nyang ngendi ? aku wis bosen nyang alun-alun”
“emm, nyang ngendi yo? Piye nek nyang lereng gunung Loreng ?”
“sesuk isuk wae yo, ben ra kesusu, piye ?
“yo wis lah, sesuk ketemu neng jembatan pring yo”
Jalan setapak aku susuri bersama Tono, agak susah karena sudah ditumbuhi semak yang merintangi jalan kami, 2 jam perjalanan yang susah telah aku tempuh dan tibalah kami dikaki Gunung Loreng. Lelah dan perih karena tergores semak menyelimuti tubuhku, aku duduk terkulai di sebuah batu, lalu rebahan, demikian juga Tono, kami beristirahat sejenak.
Aku melirik kesamping mata Tono terpejam dengan nafas yang tenang dan teratur, tidak demikian dengan aku. Tono seorang pemuda dusun yang bekulit agak putih, lain dengan pemuda gunung lainnya yang agak legam, aku jadian dengan Tono sudah hampir 2 tahun dan tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku.
Karena kelelahan aku akhirnya tertidur di batu besar itu.
Aku terbangun dari tidur ketika ada yang mengecup bibirku ini, Tono rupanya. Kami melayang dan melampaui batas dan semua terjadi dengan sendirinya. Aku menangis dan Tono memelukku.
Hari-hariku selanjutnya dipenuhi dengan perasaan bersalah dan ketakutan, hingga akhirnya orang tuaku menyadarinya. Keterusteranganku membuat mereka murka dan marah yang luar biasa.
Aku lari, lari dan lari
Surabaya, itulah tujuanku, konon orang tuaku punya saudara disana.
Aku kebingunan ketika sudah berada di terminal Joyoboyo,
bingung tidak tau kemana,
lapar,
dahaga,
letih,
kantuk yang teramat sangat,
hingga ada seorang yang menegurku, memberikanku makanan dan minuman, memberikanku kehidupan, memberikanku harapan.
“Ruslan” dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan
“Sandra” aku tersenyum getir
Hari-hariku tinggal bersama Ruslan, aku bagai benalu bersama Ruslan.
Kebaikan Ruslan ternyata hanya sementara, hingga aku dijual kepada seorang germo menjadi pelacur di sebuah lokalisasi terbesar di Surabaya.
Aku lemah
Aku tak berdaya
Hari-hariku sebagai pelacur, cukup melelahkan, aku tergolong pelacur yang cukup gampang mendapatkan tamu, aku cantik dan berkat polesan mbak Darmi temanku, aku semakin bersinar.
Aku harus berhenti,
aku tabung uang hasil kerjaku sedikit hingga sedikit,
Ada beberapa tamuku yang berusaha untuk mengajakku menikah dan ada juga yang mengajakku bekerja ditempat lain. Aku tertutup untuk mereka.
Aku hidup tapi mati
Aku butuh kasih sayang
Aku tidak ingin mati
.
Share









![djokosantoso.com posted a photo: AF-S 50mm F/1,4G | F/5,6 | 1/160s | ISO 200YN460II power 1/2 + softbox [front left]SB80DX 1/8 @35mm + umbrella [right]trigger PT-04NE djokosantoso.com posted a photo: AF-S 50mm F/1,4G | F/5,6 | 1/160s | ISO 200YN460II power 1/2 + softbox [front left]SB80DX 1/8 @35mm + umbrella [right]trigger PT-04NE](http://farm7.staticflickr.com/6091/6264623979_354dd3db1d_s.jpg)







