Kesalahan konsep yang indah

Bvlgari Man in color

Dalam membuat suatu sesi foto seharusnya kita mengetahui hasil apa yang kita inginkan. Obyek yang akan kita foto tidak akan berbicara banyak jika kita asal saja dalam memotretnya.

Demikian juga dalam memotret benda mati, foto kita harus berbicara, bercerita banyak.

Still Life, adalah salah satu minat khusus di dunia fotografi.
Definisi Still Life Photography adalah menciptakan sebuah gambar dari benda atau objek mati tampak jauh lebih “hidup” dan “berbicara”. Kata STILL berarti benda diam atau mati sedangkan kata LIFE berarti hidup; memberikan konteks “kehidupan” pada benda tersebut, juga harus bercerita banyak.
Still Life mengkomunikasikan sebuah cerita yang menciptakan kesan dalam pikiran orang lain sebagai penikmat, dan itu membutuhkan pemikiran kreatif untuk dapat membuat objek menjadi sebuah cerita.

Kalau saya simak kata “kehidupan dan berbicara” adalah kata kunci yang pokok. Apa yang kita bicarakan dan kehidupan yang ingin kita ciptakan haruslah sesuai dengan karakteristik benda atau obyek tersebut, disinilah “konsep berbicara”

Kembali ke foto saya diatas, yang saya foto adalah Bvlgari Man, sebuah produk baru dari Bvlgari yang mulai dipasarkan pada tahun 2010.
Bvlgari Man memiliki base notes : cashmere wood, benzoin, white honey, amber and musk, dimana aroma rempah dan kayu sangat kuat. Hal ini mencerminkan sesuatu yang “Klasik, ambisius dan sedikit konvensional”.

Kata kuncinya adalah “Klasik, ambisius dan sedikit konvensional” itulah konsep yang seharusnya saya terapkan dalam foto saya tersebut.

Lalu apa yang terjadi dengan foto saya tersebut ?
Saya mengambarkannya menjadi sesuatu yang “dinamis dan sporty”, tentu saja hal ini sangat jauh dari aroma Bvlgari. Jika benar foto saya untuk materi iklan Bvlgari, maka akan timbul kekecewaan dari konsumen, foto saya “sangat tidak mencerminkan aromanya“.

Maka dari itu foto saya ini sangat jelek sekali, dan masih banyak lagi foto saya yang lain yang memiliki kesalahan yang sama.

Lalu apa yang saya pelajari dari kejadian ini ?
Saya menyimpulkan dari apa yang saya pelajari selama ini, dan tentu saja belum tentu benar (kalimat ditebali adalah manifestasi dari keraguan saya – hahahaha). Untuk memotret (Still Life) yang baik, harus memperhatikan aspek sebagai berikut :

1. Karakteristik Obyek.

Selalu kenali dan pelajari secara mendalam karakteristik dari obyek, cari sesuatu yang paling unik dari obyek tersebut, cari diferensiasinya, itulah keunggulan kompetitif obyek kita dibanding obyek lainnya.

2. Konsep.

Membuat konsep yang sesuai dengan karakteristik obyek kita. Saya lebih suka sebuah konsep yang sederhana, sehingga membuat penafsiran konsep yang mudah bagi yang menikmati. Tentukan juga targetnya, untuk siapa atau siapa yang “paling” kita inginkan menikmati foto kita.

3. Eksekusi.

Ini juga hal yang penting, saya juga cenderung membuatbeksekusiyang sederhana, memanfaatkan semaksimal mungkin apa yang kita punya, kalau memang tidak mumpuni baru kita beli atau sewa.

Eksekusi ini lebih ke aspek teknikal, bagaimana bermain komposisi, angle, pencahayaan, latar belakang dll.

Arrrrrgggghhhhh pusing !!
Lah itulah nikmatnya bermain …. Bermain dengan kamera seserius mungkin hahahaha

Selamat memainkan kameramu …
Bermainlah dengan kameramu seakan itu bagian dari tubuhmu, kenalilah seutuhnya

Bravo

Share
 

Comments: 3

Leave a reply »

 
 
Joannes Agus Boediono
 

Suwon Jok..sdh dikasih pelajaran dari kegagalanmu..

 

gak punya kamera mbah.. bagi dong… :p

 

@Mas Agus, suwun balik yo Bos
@Mas Haris, punya atau tidak kamera, sangat tergantung dari seberapa niat kita memilikinya … wekkks :P

 

Leave a Reply

 
(will not be published)
 
 
Comment