February 3

Sandra #4

Sandra #1
Episode 1
Episode 2

Sandra #2
Episode 3
Episode 4
Episode 5

Sandra #3
Episode 6
Episode 7

.

Episode 8
“Gunawan, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini ?” aku memulai pembicaraan.
“aku ingin menyembuhkanmu dari dosa, aku ingin memilikimu !”
“kamu dewiku, kamu malaikatku, tidak pantas kamu jadi wanita jalang”
“aku mengagumimu, aku mencintaimu, kamu tidak boleh dimiliki siapapun” Gunawan menangis.
Gunawan beranjak dari depanku menuju laptopnya, ditunjukkannya banyak sekali foto-foto aku,
foto keseharianku,
foto saat dirumah,
dan …. astaga !
foto ketika aku mandi,
foto ketika aku tidur,
foto ketika aku ganti baju,
“lihat …… betapa aku kagum padamu, betapa aku memujamu …” Gunawan memotong
Gunawan mengeluarkan sapu tangan untuk membasu mukanya,
dan …. astaga ! itu celana dalamku
aku menangis dan menggigil ketakutan

“Sandra, aku akan memberikan pengampunan kepadamu, kalau kau menerima aku jadi kekasihmu dan kamu berhenti menjadi wanita jalang.”
Aku cuman menggeleng, menggeleng karena ketakutan bukan jawaban, dan itu membuat Gunawan semakin murka.
Aku sangat terkejut melihat mukanya, sangat berubah dari yang polos menjadi semacam monster yang menyeramkan, aku takut.
Banyak pertanyaan ditujukan padaku, tapi tidak terdengar, seperti mengambang, aku bingung dan takut sekali, aku cuman menggeleng, tidak mau dibunuh.
“Baiklah, kalau kamu menolakku, berarti kamu harus mati”

Sepintas terlihat kemilau cahaya dari belati Gunawan siap untuk dihunuskan ke perutku,
tapi samar-samar terdengar pintu didobrak
samar-samar aku lihat banyak polisi masuk
pisau sudah diarahkan ke perutku
dan ….
Gunawan menusuk perutku
bersamaan dengan itu terdengar letusan suara pistol
Gunawan terpental
aku melayang ….

aku teringat sandra kecil di dusun

aku teringat Tono di dusun

aku teringat Mama dan Papa

aku teringat Andi

mataku mulai gelap

dan akhirnya gelap sekali

.

Selesai

Category: cerita | LEAVE A COMMENT
February 2

Sandra #3

Sandra #1
Episode 1
Episode 2

Sandra #2
Episode 3
Episode 4
Episode 5

.

Episode 6
Guyuran air membangunkan aku
Aku manfaatkan untuk meminumnya sedikit, lega rasanya
“Bangun Sandra”
Mataku terbuka, Gunawan didepanku
“Oh kekasihku aku sangat mengharapkanmu sayang …, tapi kenapa kau jadi wanita jalang ?”
Gunawan melepas pelester dimulutku
Aku diciumnya dengan lembut
Tangan masih terikat
Hanya tali ini yang menutupi tubuhku
Dingin terasa disekujur tubuh ini
Gunawan memfoto aku dari berbagai sudut dan kemudian kembali menekuni laptopnya
“Gun ….” aku memanggilnya, kecil sekali suaraku
“Lepaskan aku, ambil apa yang kau mau”
“Aku tidak butuh apapun selain cintamu sayang, dirimu yang aku butuhkan”
Aku menangis
Ingin lari, lari dan lari
Tapi kali ini tidak bisa
Aku terikat
Aku terbelenggu

Episode 7
Tililut … tililut …
Aku ambil Hpku di jok mobil sampingku, aku baca isinya. Seperti biasa order untuk melayani seseorang.
Dan tiba-tiba ada seorang anak yang menyeberang jalan, aku tidak bisa mengendalikan mobil ini dan akhirnya …. gubrak !!! aku menabrak sebuah pohon. Tidak terlalu parah, tapi karena aku panik dan tidak pernah mengalami kecelakaan aku bingung dengan apa yang aku perbuat.
Aku ditolong oleh seorang laki-laki, baik sekali dia.
Aku diantar hingga rumah, aku kasih uang 5 lembar 100 ribuan, tapi menolaknya.
Aku menanyakan namanya.
“Gunawan” jawabnya.
Seorang laki-laki yang polos, jujur dan baik.
Aku tanya ternyata belum bekerja masih kuliah dan tinggal di rumah kos.
Aku tawarin untuk tinggal dirumahku sekaligus menemani aku, karena aku sendirian, pembantu perempuan saya datang pagi dan pulang sore, tidak tinggal di rumah.
supaya dia juga hemat biaya kosnya.
dan Gunawan mau,
aku bersyukur.
Keseharian Gunawan lebih sering tinggal dikamar belakang, dan selalu membantu aku, mulai mencuci mobil dan mengantar belanja, jadi seperti asisten dan sopir.
Itulah Gunawan,
Gunawan yang aku kenal ….

.

Bersambung

Category: cerita | LEAVE A COMMENT
February 1

Sandra #2

Sandra #1
Episode 1
Epidose 2

Episode 3
Berawal dari perkenalanku dengan Andi, seorang mahasiswa, disebuah Mall, kami akhirnya berpacacaran,
Kasih sayang itu akhirnya datang juga,
hanya kasih sayangnya yang aku harapkan, kasih sayang setulus hati dan menerima aku apa adanya. Semua biaya kos dan kuliah aku yang menanggung, hingga lulus…
Dalam dekapannya ….
“Sandra” Andi memulai pembicaraan
“Orang tuaku telah mengetahui statusmu, dan tidak merestui hubungan kita”
Air mataku mulai menetes di dadanya, pedih rasanya.
Aku ingin sekali berteriak, menangis yang keras
lagi …..
Aku ingin lari, lari dan lari
Aku mencoba mencari sebuah kartu nama yang ditinggalkan tamu aku waktu itu, aku bongkar laci meja riasku, dan aku dapatkan kartu nama itu …..
“hallo, ini Danang ?” tanyaku dari HP
Percakapanpun dimulai, aku tidak ingin terlihat guncang aku berusaha tenang ….
“Kapan kamu ke Jakarta ?”
“Minggu, jemput aku di Cengkareng ya”
“Ok”

.

Episode 4
Kembali aku tersadar dari pinsanku
Perih dibibir dan pipi aku rasakan,
Lapar yang teramat sangat
Berapa hari aku disekap sudah tidak tau

Seseorang dengan Laptop masih terlihat serius bekerja,
Nyala laptop menyinari wajahnya,
Gunawan !

“kamu lapar sayang ? haus?”
aku diam
“mau ini sayang ?” sebilah pisau diacungkan kepadaku
“kamu milikku seorang, disini kamu miliku seorang”
“tidak ada yang bisa memanggilmu lagi, Cuma aku hemmm Cuma aku”
“Cuma kepadaku kau minta pertolongan”

.

Episode 5
“apa kabar Sandra ?”
“kamu tidak pantas di tempat itu, kamu terlalu murah disana. Aku akan membuat kamu terkenal dan kaya raya.”
Danang membawaku menuju sebuah rumah di Tebet,
Aku hanya terdiam menatapi jalanan, menatapi keangkuhan gedung-gedung yang tinggi beralaskan kekumuhan dan kemelaratan.
Aku tidak ingin terkenal, aku tidak ingin kaya raya, aku cuma ingin lari.
“kapan kamu siap bekerja? 1 minggu ini kamu ikut perawatan dulu ya, juga aku ajari semua hal yang bisa menyenangkan kaum laki-laki”
Aku letih aku tertidur

Hari-hariku diisi dengan pelajaran bagaimana merias diri dan memuaskan kaum laki-laki, belanja pakaian, fitnes dll.
Hingga tiba saatnya aku mempraktekkan apa yang aku bisa.
“Sandra, Hotel Mandrin room 809, pukul 19.00, namanya Pak Anton”
“ok”. Aku set reminder di HP-ku
Keesokan harinya, aku mendapat pujian dari Danang karena pelayananku kepada Anton.
Berikutnya SMS :
– Four Seasons Hotel room 1003, pukul 15.00, Pak Harry
– InterContinental Hotel room 9001, pukul 12.30, Pak Albert
– dst … dst ….
aku menerima sekitar 2 jt setiap melayani dan semakin lama semakin besar, cukup untuk hidup di Jakarta
Tidak hanya urusan sex saya menemani para klien-ku, tapi juga untuk urusan bisnis misalnya tender, negosiasi dan lain-lain.

Lebih 2 tahun saya di Jakarta, saya sudah memiliki sebuah mobil dan sebuah rumah yang cukup mewah di daerah Pejaten. Town House.

.

Bersambung

January 30

Sandra #1

Episode 1
Asap rokok memenuhi mobilku, batang demi batang aku hisap sambil mengemudikan X-trail di jalan Sudirman yang kosong karena hari sudah hampir pagi tapi nyala lampu kota dan gemerlap iklan-iklan masih bersinar dengan terangnya.
Aku terus mengemudi dan mengarahkan ke daerah Pejaten, sebuah town house yang aku beli, tidak begitu besar tapi lumayan mewah.
Mandi ya mandi, aku pengen sekali membasu tubuh ini yang kotor dan bau minuman keras, yang tidak tahu berapa banyak aku minum malam tadi.

Pintu gerbang aku buka dan memasukkan mobil ke carport, pusing kepala ini semakain menjadi-jadi, susah sekali aku menemukan kunci rumah di tas aku, setelah kutemukan segera saja aku buka pintu utama. Baru beberapa langkah masuk tiba-tiba ada benda yang menghantam kepalaku dan semua menjadi gelap.

Kepalaku masih pusing ketika aku tersadar, bau anyir darah dan debu menusuk hidungku, pelan-pelan kubuka mata ini, tanganku terikat dibelakang dan mulutku masih ditutup dengan pelester, perih disekujur tubuhku. Aku mencoba mengenali tempat ini, Gudang, ya sebuah gudang tua yang kosong.

Aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya, aku pulang sehabis menemani seorang bos sebuah perusahaan multinasional berpesta hingga menjelang pagi dan ketika akan masuk rumah aku dipukul di kepalaku dengan benda yang keras.

Pintu gudang terbuka, aku langsung berpaling kesana, seseorang masuk berkacamata, kurus, oh …. aku tau siapa dia, Gunawan …..
“Hai sayang !!!” Gunawan berteriak kepadaku
“Gimana rasanya ? sudah siuman kau rupanya. Inilah hadiah buat kamu yang membuat aku seperti ini.”
Dan … -Plak plak-
beberapa pukulan mendarat lagi dimukaku. Langsung gelap kembali ….

.

Episode 2
Sandra, mereka menamakanku demikian, keluargaku adalah keturunan Tionghoa, sejak kecil hingga remaja aku tinggal di sebuah kota kecil di daerah pegunungan di Jawa Timur.
“Sandra, yuk mlaku-mlaku” Tono kekasihku mengajak jalan-jalan.
“Nyang ngendi ? aku wis bosen nyang alun-alun”
“emm, nyang ngendi yo? Piye nek nyang lereng gunung Loreng ?”
“sesuk isuk wae yo, ben ra kesusu, piye ?
“yo wis lah, sesuk ketemu neng jembatan pring yo”

Jalan setapak aku susuri bersama Tono, agak susah karena sudah ditumbuhi semak yang merintangi jalan kami, 2 jam perjalanan yang susah telah aku tempuh dan tibalah kami dikaki Gunung Loreng. Lelah dan perih karena tergores semak menyelimuti tubuhku, aku duduk terkulai di sebuah batu, lalu rebahan, demikian juga Tono, kami beristirahat sejenak.
Aku melirik kesamping mata Tono terpejam dengan nafas yang tenang dan teratur, tidak demikian dengan aku. Tono seorang pemuda dusun yang bekulit agak putih, lain dengan pemuda gunung lainnya yang agak legam, aku jadian dengan Tono sudah hampir 2 tahun dan tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku.
Karena kelelahan aku akhirnya tertidur di batu besar itu.
Aku terbangun dari tidur ketika ada yang mengecup bibirku ini, Tono rupanya. Kami melayang dan melampaui batas dan semua terjadi dengan sendirinya. Aku menangis dan Tono memelukku.

Hari-hariku selanjutnya dipenuhi dengan perasaan bersalah dan ketakutan, hingga akhirnya orang tuaku menyadarinya. Keterusteranganku membuat mereka murka dan marah yang luar biasa.
Aku lari, lari dan lari
Surabaya, itulah tujuanku, konon orang tuaku punya saudara disana.
Aku kebingunan ketika sudah berada di terminal Joyoboyo,
bingung tidak tau kemana,
lapar,
dahaga,
letih,
kantuk yang teramat sangat,
hingga ada seorang yang menegurku, memberikanku makanan dan minuman, memberikanku kehidupan, memberikanku harapan.
“Ruslan” dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan
“Sandra” aku tersenyum getir

Hari-hariku tinggal bersama Ruslan, aku bagai benalu bersama Ruslan.
Kebaikan Ruslan ternyata hanya sementara, hingga aku dijual kepada seorang germo menjadi pelacur di sebuah lokalisasi terbesar di Surabaya.
Aku lemah
Aku tak berdaya

Hari-hariku sebagai pelacur, cukup melelahkan, aku tergolong pelacur yang cukup gampang mendapatkan tamu, aku cantik dan berkat polesan mbak Darmi temanku, aku semakin bersinar.
Aku harus berhenti,
aku tabung uang hasil kerjaku sedikit hingga sedikit,
Ada beberapa tamuku yang berusaha untuk mengajakku menikah dan ada juga yang mengajakku bekerja ditempat lain. Aku tertutup untuk mereka.
Aku hidup tapi mati
Aku butuh kasih sayang
Aku tidak ingin mati

.

bersambung

Category: cerita | LEAVE A COMMENT