July 28

Pisang Goreng [sebuah pendekatan]

Ini pandangan saya saja tentang konsep marketing sebuah pendekatan yang sederhana, dari orang yang ndak punya background marketing dan sangat bodoh dan kurang sekali jam terbangnya.
Jika salah saya ndak terlalu berdosa, jika benar dan bermanfaat, pahala saya banyak hahahaha.

Hal ini bukan sekedar tentang pisang pisang goreng, ini sebuah konsep pemasaran.

Berfikir sebuah analogi yang sangat sederhana dan berharap menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.

Dalam hal memasarkan sesuatu strategi marketing merupakan hal awal yang harus kita putuskan. Terkesan sangat klise, tapi itu memang benar adanya.
[bahkan banyak pihak yang mengganggap remeh perbedaan Strategi dan Taktik, uhhh]

Ujung dari Strategi Marketing adalah Positioning, setelah kita mensegmentasi dan menarget sasaran kita.

Pentingnya positioning yang tepat adalah agar apa yg akan kita pasarkan sesuai dengan target pasar kita.

Pisang Bakar di Hotel
Pisang Bakar di Hotel
Pisang Goreng di Pasar tradisional
Pisang Goreng di Pasar tradisional

Saya mengambil contoh yang sangat sederhana tentang positioning ini.
Positioning Pisang Goreng, ya Pisang goreng, sederhana kan !

Pisang Goreng bisa dipasarkan di 2 target segmen yang berbeda, kelas bawah atau kelas atas. Mana yang benar ? Semuanya benar jika sesuai konsep, semua salah jika tidak sesuai konsep.

Sebuah Pisang Goreng bisa di jual dengan harga yang murah atau sangat mahal dan terserap tergantung dari kemasan (product), daftar menu (promotion), tempat jualnya (distribution/place) dan harga (pricing)
Di sebuah pasar tradisional pisang goreng bisa dijual sangat murah, Rp 5.000,- bisa kita dapatkan pisang goreng 1 bungkus besar, Namun di hotel berbintang, sebuah pisang goreng dengan source material yang sama bisa dijual dengan harga yang sangat mahal hanya dengan 3 biji pisang goreng, kenapa ?

  1. Kemasannya menarik dengan berbagai ornamen, keju, coklat, ice cream.
  2. Daftar menu dengan dilengkapi image hasil buah karya food fotografi yang menawan dan menggiurkan.
  3. Harga yang mahal, loh kok aneh !! Iya, tidak semua orng mau beli yang murah, ingat itu, “pride, self-esteem”. (Jangan diukur dari kaca mata kamu ya ! Hahahahaha).
  4. Tentunya dijual ditempat yang tepat dimana tempat itu didatangi oleh orang yang tepat.

 

Coba kita putar faktanya ya.

  1. Pisang goreng itu, diletakkan di bungkus bekas ujian anak sekolah SD dan hanya digoreng dgn minyak goreng biasa tanpa margarin, tanpa coklat, keju, stroberi dan keju sebagai pemanis, apa ya laku !
  2. Pisang goreng difoto dgn HP yang DoF nya lebar dan resolusi rendah, dengan Typo yang amburadul, apa ya laku !
  3. Harga murah banget, tidak membuat orang banga sama sekali mentraktir pisang goreng, apa ya laku !
  4. Dengan berbagai aseaoris, foto dan menu yang bagus, harga yang mahal, tapi di jual di Pasar Tradisional, pinggir kios jual ikan, apa ya laku !

 

Akhirnya kita kembali pada Taktik Marketing kita sebagai penjabaran lebih strategi marketing kita.

 

Teori : 4P lah atau yang lainnya, memang sangat klise, tapi hal ini adalah benar adanya.

Seringkali kita mengabaikan hal yang sepele karena kita sudah “mengganggap” hal itu biasa, dan yang terjadi kita malah melupakannya.

Apakah jika sudah melaksanakan ini semua, akan mudah penjualannya ? Hahahahaha pertanyaan naif !
Banyak faktor yang membuat “dagangan” kita “laku” di pasaran.

“Dagangan” maaf kata sederhana, untuk product, service, dll
“Laku” maaf kata sederhana untuk terserap.

Selamat berkreatif,
Ingat bagaimana memasarkan produk kita, ingat “pisang goreng”

Pisang Goreng sebagai philosophy

September 17

Wantex – Wenter pakaian no 1

Sepulang dari General Check-up sebelum puasa kemaren, saya mampir ke Soto Ayam Pak Sadi di Jl. Prof Dr. Supomo Jakarta bersama 2 orang teman kerja saya, Ketika sedang menikmati soto ayam, saya melihat ada sebuah gambar promosi, yaitu Wenter, atau pewarna pakaian merknya Padi Gunting. Unik sekali promosi ini, karena medianya, yaitu sebuah Lukisan tangan cat minyak dan bergaya jadul banget, asyik, membuat memori kita kembai ke masa lalu.

Media promosi lukisan tangan cat minyak ini tidak umum untk jaman sekaran, dimana teknologi digital printing sudah sangat biasa bagi insan periklanan. Dan ini memang langsung menarik perhatian saya. Tapi apa produknya masih ada ya ?

Bicara Wenter sendiri, menurut Paman adalah cara sederhana sebagian masyarakat kita untuk bergaya. Memang tidak dapat dipungkiri hal ini. Sewaktu saya SD dulu, untuk membuat kaos tim sepak bola saya berseragam, juga melakukan cara ini, yaitu di-wenter. Walaupun gagal waktu itu (kebanyakan air dari pada wenternya-hehehehe).

August 9

Motor Sandal Bata

Dibawah ini adalah copy paste postingan saya di Blognya TC125 Indonesia – Bekasi Chapter,

Bata sebagai perusahaan Sepatu yang berumur relatif lama sekali, meluncurkan suatu produk yang aneh. Sandal untuk pengendara motor, yang disebut motor sandal.
Konyol, adalah kata yang tepat menurut saya.
Dalam peluncuran suatu produk tentunya harus didasari dari riset terlebih dahulu, baik dari aspek finansial, market, kelayakan, dll.
Dimanapun surveynya (klo surveynya benar lho) saya yakin tidak ada yang merekomendasikan menggunakan sandal pada saat mengendarai motor. Tidak Safety.

Continue reading