July 28

Sobat Online Lama

Mas Samsjul Hudha and Me
Mas Samsjul Hudha and Me

Di suatu Sore, saya bersama anak dan istri sedang ke pusat jajanan, saya berjalan berlawanan arah dengan sobat saya yang kenal sejak 2005 tetapi belum pernah berjumpa sekalipun di dunia nyata,

Dan pusat jajanan itu membuat jalinan persahabatan yang dari sebatas dunia maya menjadi dunia nyata.

Thanks sobat sudah mampir dimeja sederhana tempat saya menikmati hidangan dgn anak istri.

Walau tidak pernah bertemu sebelumnya, namun saya merasa sangat dekat dengan sobat saya satu ini.

Say thanks to blogspot, wordpress, FB dan Whatapps.

Special thanks to Samsjul Hudha

share itShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestEmail this to someoneShare on TumblrShare on Google+
July 28

Pisang Goreng [sebuah pendekatan]

Ini pandangan saya saja tentang konsep marketing sebuah pendekatan yang sederhana, dari orang yang ndak punya background marketing dan sangat bodoh dan kurang sekali jam terbangnya.
Jika salah saya ndak terlalu berdosa, jika benar dan bermanfaat, pahala saya banyak hahahaha.

Hal ini bukan sekedar tentang pisang pisang goreng, ini sebuah konsep pemasaran.

Berfikir sebuah analogi yang sangat sederhana dan berharap menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.

Dalam hal memasarkan sesuatu strategi marketing merupakan hal awal yang harus kita putuskan. Terkesan sangat klise, tapi itu memang benar adanya.
[bahkan banyak pihak yang mengganggap remeh perbedaan Strategi dan Taktik, uhhh]

Ujung dari Strategi Marketing adalah Positioning, setelah kita mensegmentasi dan menarget sasaran kita.

Pentingnya positioning yang tepat adalah agar apa yg akan kita pasarkan sesuai dengan target pasar kita.

Pisang Bakar di Hotel
Pisang Bakar di Hotel
Pisang Goreng di Pasar tradisional
Pisang Goreng di Pasar tradisional

Saya mengambil contoh yang sangat sederhana tentang positioning ini.
Positioning Pisang Goreng, ya Pisang goreng, sederhana kan !

Pisang Goreng bisa dipasarkan di 2 target segmen yang berbeda, kelas bawah atau kelas atas. Mana yang benar ? Semuanya benar jika sesuai konsep, semua salah jika tidak sesuai konsep.

Sebuah Pisang Goreng bisa di jual dengan harga yang murah atau sangat mahal dan terserap tergantung dari kemasan (product), daftar menu (promotion), tempat jualnya (distribution/place) dan harga (pricing)
Di sebuah pasar tradisional pisang goreng bisa dijual sangat murah, Rp 5.000,- bisa kita dapatkan pisang goreng 1 bungkus besar, Namun di hotel berbintang, sebuah pisang goreng dengan source material yang sama bisa dijual dengan harga yang sangat mahal hanya dengan 3 biji pisang goreng, kenapa ?

  1. Kemasannya menarik dengan berbagai ornamen, keju, coklat, ice cream.
  2. Daftar menu dengan dilengkapi image hasil buah karya food fotografi yang menawan dan menggiurkan.
  3. Harga yang mahal, loh kok aneh !! Iya, tidak semua orng mau beli yang murah, ingat itu, “pride, self-esteem”. (Jangan diukur dari kaca mata kamu ya ! Hahahahaha).
  4. Tentunya dijual ditempat yang tepat dimana tempat itu didatangi oleh orang yang tepat.

 

Coba kita putar faktanya ya.

  1. Pisang goreng itu, diletakkan di bungkus bekas ujian anak sekolah SD dan hanya digoreng dgn minyak goreng biasa tanpa margarin, tanpa coklat, keju, stroberi dan keju sebagai pemanis, apa ya laku !
  2. Pisang goreng difoto dgn HP yang DoF nya lebar dan resolusi rendah, dengan Typo yang amburadul, apa ya laku !
  3. Harga murah banget, tidak membuat orang banga sama sekali mentraktir pisang goreng, apa ya laku !
  4. Dengan berbagai aseaoris, foto dan menu yang bagus, harga yang mahal, tapi di jual di Pasar Tradisional, pinggir kios jual ikan, apa ya laku !

 

Akhirnya kita kembali pada Taktik Marketing kita sebagai penjabaran lebih strategi marketing kita.

 

Teori : 4P lah atau yang lainnya, memang sangat klise, tapi hal ini adalah benar adanya.

Seringkali kita mengabaikan hal yang sepele karena kita sudah “mengganggap” hal itu biasa, dan yang terjadi kita malah melupakannya.

Apakah jika sudah melaksanakan ini semua, akan mudah penjualannya ? Hahahahaha pertanyaan naif !
Banyak faktor yang membuat “dagangan” kita “laku” di pasaran.

“Dagangan” maaf kata sederhana, untuk product, service, dll
“Laku” maaf kata sederhana untuk terserap.

Selamat berkreatif,
Ingat bagaimana memasarkan produk kita, ingat “pisang goreng”

Pisang Goreng sebagai philosophy

share itShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestEmail this to someoneShare on TumblrShare on Google+
July 28

Blame Other

Blame Other
Blame Other

Menghindari diri dari kesalahan, dan berharap kita paling benar adalah sifat yang sangat alami dari manusia.

Menyalahkan itu sebagai sikap defensif untuk perlindungan emosional / egois.

Sumber : Blame Bad Behavior

Sering kali hal ini bahkan tidak disadari oleh sang pengecut pengucap.
Dan orang lain diharapkan oleh sang pengecut pengucap menanggung beban kesalahan.

Orang-orang yang menyalahkan orang lain cenderung melebih-lebihkan diri sementara pada saat yang sama dia tidak menyadari efek negatif dari tindakan mereka.

Beberapa orang menyatakan bahwa blamers (sang pengecut pengucap) memiliki gangguan kepribadian narsistik.
Tambah rumit ya ……

Menyalahkan adalah perilaku umum di antara orang-orang yang jatuh tapi ingin terlihat kuat.

Apapun itu, keberanin diri untuk bertanggung jawab atas segala akibat yang melibatkan kita lebih bersifat kesatria.

Jadilah kesatria

share itShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestEmail this to someoneShare on TumblrShare on Google+