March 13

Nasi Goreng Pagi Hari

Suatu pagi di tahun 1987an ……
Mandi pagi sudah selesai, pakaian abu-abu putih sudah aku kenakan, tinggal sarapan dan berangkat sekolah ….
Menuju meja makan …. Anjriiitttt Nasi Goreng lagi ….

“Buk kok sarapan sego goreng terus sih, aku bosen buk …. Mblenger … Mosok sambel kecap tempe, sego goreng iku terus sak ben isuk …”

Ibuku masih dengan senyumannya meneruskan aktifitasnya memotong pesanan baju pelanggannya.

Saya ndak makan dan langsung pergi tanpa pamit dan ngedumel.
( Ibuku selalu menggoreng nasi yang tidak habis kemaren, pantangan buat Beliau membuang nasi atau bahkan beras yang tercecer )

Pagi ini ……
Pagi hari saat sarapan hendak berangkat kerja, didepanku tersedia nasi goreng bikinan istriku tercinta.
Saya sarapan pagi sendiri pagi ini dimeja makan karena anak-anak sudah berangkat sekolah dan istri sudah berangkat kerja.
Lezat sekali saya makan nasi goreng ini dengan lauk telor goreng.

Ya … Rasa Nasi Goreng ini persis sama dengan yang dibuat ibuku.
Sejenak ingatanku kembali saat SMA dulu … Ya Allah …. Betapa aku durhakanya pada orang tuaku ….
Sekarang Ibuku sudah sendiri … Bapak ku yang baik telah pergi beberapa bulan yang lalu …….

Ibuku penjahit baju …. Dia tidak hanya menjahit baju buat pelanggannya, tapi Beliau juga menjahit kebaikan, menjahit kebahagiaan, menjadi penjahit buat keluarganya …
Beliau juga menjahit jalan kemudahan buat anak-anakmu …

Bukan !!!! Kau bukan penjahit Bu … Kau Pahlawanku

Dan … Hingga kesendiriannya sekarang engkau masih saja menjahit
Menjahit buat pelanganmu ….
Menjahit ketentraman anak-anakmu ….
Aku pelanganmu Bu

Katakanlah Buuuuu
Aku hanya ingin membalas segala budimu

Terima kasih yang setulusnya buat 2 orang wanita yang mengisi hidupku dan aku cintai atas nasi goreng yang lezat …..
Lezat karena tanganmu …..
Lezat karena dibuat dengan Iklas dan penuh kasih sayang …..

share itShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestEmail this to someoneShare on TumblrShare on Google+
December 9

Accept or Leave it

Day 264/365 : No !!

“Menerima keadaan dengan Cinta dan Menggaulinya dengan sepenuh hati”

Di tahun 90-an ada sebuah film, Heaven and Earth. Sebuah film tentang perang vietnam. Yang saya sukai dalam film ini bukan karena peperangannya atau adegan tembak menembaknya, tetapi sisi kemanusiaannya dan banyak sekali hal hal mendasar bagaimana cara bertahan hidup (bukan dari si tentaranya).
Salah satu adegan yang paling saya ingat adalah ketika salah satu tokoh (wanita) rakyat vietnam yang sedang disiksa, diikat disebuah tiang dan bajunya dimasukin seekor ular. Pada awalnya wanita ini melakukan perlawanan terhadap kegelian dan kejijikannya terhadap ular ini, namun setelah tidak tahan, wanita ini menerima kegelian dan kejijikan, dan membayangkan hal indah lainnya, sehingga dia bisa “melalui” siksaan kegelian dan kejijikan ini.

Dalam perjalanan hidup kita, tidak semua kejadian, keadaan atau apapun selalu sesuai dengan keinginan kita. Hal ini terjadi baik didalam keluarga kita, kantor tempat kita mencari nafkah, komunitas kita ataupun dimanapun, bahkan ketika kita melakukan aktifitas yang kita sukaipun, ada kalanya kita tidak suka beberapa hal. Benar kan ?

Ok, sekarang yang penting bagaimana mengatasi hal ini agar kita bisa menikmatinya. Ternyata kata kuncinya adalah Accept. Kita terima saja.
Maksutnya ?
Sebagai contoh, ketika kita kedinginan karena diudara terbuka dan digunung (tentunya dalam batas2 tertentu), ketika kita melawan hawa dingin tersebut kita akan semakin kedinginan, coba “terima” hawa dingin ini sebagai sahabat jangan dilawan, terima saja, lambat laun kita akan melupakan dingin tersebut.
Saya di tahun 1997 an adalah penderita mag yang sangat parah, sampai 2 kali masuk rumah sakit. Mungkin buat yang pernah menderita, tau bagaimana rasa perih dilambung kita. Saya mencoba menerima rasa sakit ini menjadi sahabat saya dan saya “menerimanya”, ajaib, rasa yang sebelumnya teramat sangat sakitnya, berkurang, dan saya menjadi terbiasa dengan “rasa sakit ini”

Demikian pula dilingkungan kerja kita. Apakah keadaannya selalu sesuai dengan keinginan kita ? TIDAK. Apa yang harus dilakukan ? ACCEPT or Leave it. Sederhana kan. Kalau kita tidak mau keluar, ya terimalah keadaan ini sebagai hal biasa, dan “terimalah” keadaan ini sebagai sahabat kamu, gauli keadaan ini dengan rasa cinta, maka kita akan kembali nyaman dan yang terjadi adalah kinerja kita tetap terjaga, bahkan akan lebih baik.

Dalam rumah tangga kita, pasangan kita atau anak kita, dalam hal sifat, keadaan fisik, atau apapunlah, tidak selalu juga sesuai dengan yang kita inginkan, bahkan sebaliknya, mungkin ada yang tidak kita sukai. So what ? Kita mau Cerai ? Silahkan saja, tetap jalan tapi tetap tersiksa ? Ya silahkan saja. Yang harus dilakukan adalah “Accept”, menggauli keadaan dengan rasa cinta yang mendalam, yang akan kita dapatkan adalah kebahagiaan, Insyaallah.
Hai Ugi … Bella … Bara … Love you !!

Saya sebagai manusia biasa dan bukan malaikat, seringkali lupa juga akan hal ini, bahkan seringkali berlarut kejadiannya hingga saya terpuruk dalam sekali, tapi ketika menyadarinya saya kembali bangkit, kembali “menerima”, dan menggauli keadaan ini, sehingga saya merasa nyaman kembali, tersenyum kembali, berkarya kembali.

Apa Accept itu …. Yaelaaaahhhhhhhh ternyata adalah Rasa Syukur. 
Kenapa tidak saya pakai kata syukur ? Kita sudah biasa banget dinasehatin orang untuk bersyukur … Bersyukur … Bersukur …. Go to hell !!!! 
Sayaaaaaaa menolak nasehatmu … Bosan.

Haaa ? Ternyata saya melakukannya dengan cara yang lain … Accept, menerima keadaan apapun dengan cinta (anti pati saya pakai kata ikhlas, nanti klise lagi) dan menggaulinya dengan sepenuh hati.

Jadi yang akan membuat kalian bahagia cuma ada 2 pilihan : ACCEPT or LEAVE IT

share itShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestEmail this to someoneShare on TumblrShare on Google+
October 25

Kesalahan konsep yang indah

Bvlgari Man in color

Dalam membuat suatu sesi foto seharusnya kita mengetahui hasil apa yang kita inginkan. Obyek yang akan kita foto tidak akan berbicara banyak jika kita asal saja dalam memotretnya.

Demikian juga dalam memotret benda mati, foto kita harus berbicara, bercerita banyak.

Still Life, adalah salah satu minat khusus di dunia fotografi.
Definisi Still Life Photography adalah menciptakan sebuah gambar dari benda atau objek mati tampak jauh lebih “hidup” dan “berbicara”. Kata STILL berarti benda diam atau mati sedangkan kata LIFE berarti hidup; memberikan konteks “kehidupan” pada benda tersebut, juga harus bercerita banyak.
Still Life mengkomunikasikan sebuah cerita yang menciptakan kesan dalam pikiran orang lain sebagai penikmat, dan itu membutuhkan pemikiran kreatif untuk dapat membuat objek menjadi sebuah cerita.

Kalau saya simak kata “kehidupan dan berbicara” adalah kata kunci yang pokok. Apa yang kita bicarakan dan kehidupan yang ingin kita ciptakan haruslah sesuai dengan karakteristik benda atau obyek tersebut, disinilah “konsep berbicara”

Kembali ke foto saya diatas, yang saya foto adalah Bvlgari Man, sebuah produk baru dari Bvlgari yang mulai dipasarkan pada tahun 2010.
Bvlgari Man memiliki base notes : cashmere wood, benzoin, white honey, amber and musk, dimana aroma rempah dan kayu sangat kuat. Hal ini mencerminkan sesuatu yang “Klasik, ambisius dan sedikit konvensional”.

Kata kuncinya adalah “Klasik, ambisius dan sedikit konvensional” itulah konsep yang seharusnya saya terapkan dalam foto saya tersebut.

Lalu apa yang terjadi dengan foto saya tersebut ?
Saya mengambarkannya menjadi sesuatu yang “dinamis dan sporty”, tentu saja hal ini sangat jauh dari aroma Bvlgari. Jika benar foto saya untuk materi iklan Bvlgari, maka akan timbul kekecewaan dari konsumen, foto saya “sangat tidak mencerminkan aromanya“.

Maka dari itu foto saya ini sangat jelek sekali, dan masih banyak lagi foto saya yang lain yang memiliki kesalahan yang sama.

Lalu apa yang saya pelajari dari kejadian ini ?
Saya menyimpulkan dari apa yang saya pelajari selama ini, dan tentu saja belum tentu benar (kalimat ditebali adalah manifestasi dari keraguan saya – hahahaha). Untuk memotret (Still Life) yang baik, harus memperhatikan aspek sebagai berikut :

1. Karakteristik Obyek.

Selalu kenali dan pelajari secara mendalam karakteristik dari obyek, cari sesuatu yang paling unik dari obyek tersebut, cari diferensiasinya, itulah keunggulan kompetitif obyek kita dibanding obyek lainnya.

2. Konsep.

Membuat konsep yang sesuai dengan karakteristik obyek kita. Saya lebih suka sebuah konsep yang sederhana, sehingga membuat penafsiran konsep yang mudah bagi yang menikmati. Tentukan juga targetnya, untuk siapa atau siapa yang “paling” kita inginkan menikmati foto kita.

3. Eksekusi.

Ini juga hal yang penting, saya juga cenderung membuatbeksekusiyang sederhana, memanfaatkan semaksimal mungkin apa yang kita punya, kalau memang tidak mumpuni baru kita beli atau sewa.

Eksekusi ini lebih ke aspek teknikal, bagaimana bermain komposisi, angle, pencahayaan, latar belakang dll.

Arrrrrgggghhhhh pusing !!
Lah itulah nikmatnya bermain …. Bermain dengan kamera seserius mungkin hahahaha

Selamat memainkan kameramu …
Bermainlah dengan kameramu seakan itu bagian dari tubuhmu, kenalilah seutuhnya

Bravo

share itShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestEmail this to someoneShare on TumblrShare on Google+