April 3

Putus Nyambung di Curug Panjang

Nanjak …..
Menurut Robek … Ketoeroenan soesah

Berawal dari milis Robek yang mengajak member ke Curug Panjang, saya sengaja tidak daftar karena melihat kondisi fisik saya yang sudah 3 hari sebelumnya terkena flu yang cukup berat, jadi hanya memantau milis saja, hingga subuh tanggal 2 April 2010, saya nekat memutuskan untuk ikut misi ke Curug Panjang, walau dengan kondisi fisik yang belum fit benar, hidung masih meler. Keputusan ini saya ambil daripada saya ngiler lihat teman-teman Robek ber-nanjak-ria. Mendingan ikut, kalau gak kuat ya turun pulang. Kami team Robek berjumlah 12 orang start dari Gadog.

Photobucket
Team Nanjak Robek di Gadog

Ini adalah kali pertama saya mencoba bersepeda nanjak, dan sudah putus dijalan, baru 3 km nanjak dah putus, napas tersenggal, dan kepala pening.
Bersama saya ditemani Om Hilman yang sama-sama putus.

Setelah agak tenang dan sudah tidak pusing, saya bersama Om Hilman melanjutkan perjalanan ke atas nanjak hingga Gunung Geulis, sampai disini kami berdua sudah bisa mengontrol kondisi fisik dan siap menanjak lagi, tapi karena dah tertinggal jauh dan tidak tau jalan kami putuskan untuk turun saja ke Gadog kembali dan sewa angkot untuk ke Rindu Alam dan meneruskan perosotaan.

Ditengah perjalanan naik angkot, kami berubah pikiran untuk menyusul rekan-rekan ke Curug panjang, sesampai di Raya Puncak kami belok ke arah Megamendung hingga di Pusdik Reserse, kami turun dari angkot, karena ini adalah jalur pertemuan dengan team Robek yang telah meninggalkan kami.

Karena masih kuatir team Robek sudah lewat, akhirnya kami berdua tetep melanjutkan gowes nanjak menuju ke Curug Panjang. tanjakan demi tanjakan serasa tidak berat, karena fisik kami telah stabil, hingga sampai di Curug Panjang.

Photobucket
tetep harus ada sesi narsis

Photobucket
Pengen buang sepeda ini karena gak kuat nanjak

Kami berdua melaksanakan sholat Jumat dan makan siang di Pintu Masuk Curug Panjang, ada sebuah Masjid disini. Hingga akhirnya kami bertemu dengan rombongan besar Team Robek.

Kami ber-12 melanjutkan perjalanan hingga ke curug-nya, dan kemudian mandi-mandi di sungai …. mantap sekali.

Photobucket
Mandi seger banget … tapi dinginnnnn

Perjalanan pulang dari Curug Panjang 98% turunan sebagai bonus.

beberapa evaluasi kanapa saya tidak kuat :
– teknik nanjak yang belum sempurna
– kondisi fisik yang kurang prima, belum recovery dari sakit.
– terlalu memaksakan mengikuti irama teman-teman robek yang sudah terbiasa nanjak (dengkul mereka XTR semua).
– kurang sarapan pagi dan minum krating daeng.

Apakah Menyerah dan Kapok ? jawaban saya “Tentu Tidak”
akan ada partai balas dendam  …..

Peserta yang ikut :
– Om Iman Permadi
– Om Afri – EO ke Curug Panjang
– Om Iwan QQ
– Om Eko
– Om OT / Tony
– Om Dewo
– Om Neo
– Om Emil
– Om Hilman
– Om Tjahyo (Dengkul XTR)
– Om Rambo
– saya

Saya mengucapkan terima kasih yang sebesarnya kepada Seluruh Team Robek. Salut !

**sumber photo: Om Afri, Om Hilman, Om Rambo, saya

March 22

Telaga Warna [extrem-track]

“Sesuaikan sepedamu dengan habitatnya !!!”
hahaha

Trek Telaga Warna,
Saya melewati trek ini belum pernah, tetapi mendengar dan membaca tentang trek ini saya langsung tertarik, sepertinya mantap banget.
Tanggal 16 Maret 2010 bertepatan dengan liburan Nyepi, kami baruberkesempatan untuk menjajal trek ini.
Rencananya sih kita akan tembus 2 trek sekaligus, Telaga Warna dan dilanjut ke Trek Rindu Alam, wah sangat menantang nih, pasti butuhstamina yang lumayan.
Tiba di Mang Ade dah cukup siang, tepatnya jam 8 pagi dan masih ada 1 peserta lagi yang terkena macet karena terlambat akibat dari harus ganti ban yang bocor.
Start dari Mang Ade pukul 10.15 sudah cukup siang, dan diguyur hujan yang cukup deras, tapi semangat kami cukup kuat dan tetap berani melawan hujan dan dingin.

Sebenarnya kami tergolong nekat atau bodoh, dengan kondisi hujan dan dengan kemampuan gowes teman-teman yang tergolong pemula, seharusnya kami melewati rute lain yang lebih bersahabat. Tapi ya sutra-lah, semua menginginkan tantangan baru.

Diawali dengan tanjakan ringan di kebun teh yang mayoritas makadam, kami masih bisa gowes dengan ketawa ketiwi, lancar makmur sejahtera, hingga warung sebelum masuk hutan.

Awal masuk hutan kami sudah disuguhi oleh turunan yang cukup licin karena trek bercampur dengan aliran air hujan. Sedikit demi sedikit turunan dan halangan dapat saya lalui dengan tetep berada di atas pedal, namun teman-teman yang lain banyak yang TTB (tuntun bike).

klik disini untuk melanjutkan cerita … saya terjatuh ….

February 10

Tahan berapa lama ya ?

saya ini bosenan,
kalau menyukai sesuatuselalu menggebu-ngebu,

sudah banyak hal-lah ….

sekarang gandrung sepeda oprotan
ndak tau sampai kapan aku akan bertahan menyukainya

ahhh mudah-mudahan yang ini lama, karena :
1. menyehatkan
2. masih mengandung unsur bertualang
3. sebagai pelampisan ketidak mampuan saya beli motor trail (enduro)
4. dari beberapa kali tes kemampuan gowes, masih sedikit mampu
5. tampak gagah >>> hua hahahahaha
6. asyik banyak nambah sodara baru

tapi dosanya banyak … loh kenapa ?
nanti saja cerita yang ini, nanti ketauan istri … hahahahaha
ampyuuunnnnnn

February 9

RA-Gadog yang ngangenin

Gowes RA-Gadog yang ke-2 kali ini (tanggal 6 Pebruari 2010) saya hanya berdua dengan Om Dian Nugroho, kami langsung janjian utk bertemu di Masjid Gadog.

Setelah sarapan di warung sebelah Mang Ade, kami baru memulai trip RA-Gadog.

Rute yang saya tempuh kali ini berbeda dengan Rute pertama saya ke Gadog, dimana saya kali ini tidak melewati jalur Ngehe 2, tetapi setelah Ngehe 1 saya ambil jalur ke kanan, saya tidak tau namanya apa jalur ini.

Rute di setelah Ngehe 1 berupa turunan dan sedikit sekali tanjakannya, hampir 100% jalan makadam, ampun, badan saya sampai bergetar rasanya (sepertinya kapok saya lewat jalan ini) hehehe.

Setelah sampai di jalanan aspal, setelah tanjakan pasar (ndak tau juga namanya pasar apa) Om Dian sempat mengalami bocor Ban, dan ganti Ban dalam.

Alhamdulillah perjalanan secara umum lantjar djaja, tidak ada hambatan kecuali ban bocor saja. Kami tiba di Masjid Gadog rupanya yang pertama tepat saat azan Duhur.

Category: gowes | LEAVE A COMMENT
February 2

Rute Klasik Rindu Alam-Gadog

Sempat ragu-ragu untuk menjajal rute ini karena beberapa hal :
1. masih newbie urusan cross country (XC)
2. temen yang memandu batal, karena ada urusan lain
3. musim hujan
kumplit sudah ……

Berbekal semangat, saya mencoba bertanya di milis Robek (B2W Rombongan Bekasi) dan forum sepedaku.com tentang kendala teknis track/rute RA-Gadog, juga mencoba mencari  teman seperjalanan yang sudah biasa. Alhamdulillah berkat usaha keras akhirnya ada yang menemani Oprotan di RA, yaitu Om HPW [Hendro Purwanto] dan Om Ponco.

Pukul 06.30 saya sudah berada di Masjid Gadog tempat biasa para pesepeda gunung mangkal kalau mau oprotan daerah puncak. Kami ber-8 temen satu kantor.
Setelah semua berkumpul kami menuju Pos pemberangkatan di Warung Mang Ade dekat RM Rindu Alam Puncak Bogor dengan menggunakan kendaraan angkot yang memang sudah biasa mengantar naik.

Di Warung Mang Ade kami melakukan persiapan dan sarapan pagi, sekitar pukul 7.30 kami baru memulai perjalanan menempuh track Rindu Alam – Gadog.

Perjalanan diawali dengan jalan berbatu dan beberapa turunan yang agak curam bagi pemula, ada beberapa teman yang harus TTB (tuntun Bike) … weleh ! hehehehe


narsis dengan muka masih berseri

Pemberhentian pertama adalah Arena Paralayang,
Sampai disini saya sudah mulai bisa menyesuaikan handling sepeda saya dan mulai comfort, walau pada saat turunan sebelumnya belum berani kencang larinya, tapi lumayanlah ….hihihihi

Perjalanan berikutnya melalui Jalur Bak Kontrol, track ini berupa single track di hutan dengan semak-semak sebelah kanan dan ada banyak bak-bak kontrol sungai kecil, sedang disebelah kanan jurang yang tidak begitu dalam. Kami harus menyeberangi beberapa sungai berbatu pada track ini dengan TTb tentunya. Jalur ini berakhir hingga Perkebunan Teh Gunung Mas.


TTB nyeberang sungai kecil

Kami beristirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan hingga pintu gerbang Taman Safari Puncak, track didominasi dengan jalan makadam dengan beberapa tanjakan dan turunan. Menjelang Pintu Gerbang Taman Safari, banyak anak-anak dan ojek yang menawarkan diri …. perasaan sudah tidak enak nih. hehehehe


warung depan pintu gerbang Taman Safari – tu kan ada tukang ojek dan anak-anak hihihihi

Benar saja setelah melewati jembatan kami sudah disuguhi tanjakan asyik yang namanya kesohor itu namanya NGEHE 1, kami beristirahat hingga separuh perjalanan NGEHE 1 karena beberapa teman tertinggal cukup jauh.
Ditempat pemberhentian ini ada persimpangan menuju ke Track Kondangan, kenapa dinamain itu ? saya sendiri tidak tau.


berhenti dipertengahan NGEHE 1

Perjalanan dilanjutkan hingga pos terakhir NGEHE 1, yaitu Saung Seng. Track NGEHE 1 70% berupa jalan cor 30% berikutnya jalan tanah dan sedikit batu, 100% jalanan miring semua …. ampunnnnn. Tetapi alhamdulillah saya tetap bersemangat nanjak dengan di gowes, dan berhenti berkala untuk mengatur nafas dan menurunkan detak jantung agar stabil, namun ada beberapa jalan yang tidak gowesable, karena jalan batu yang cukup besar dan beberapa jalan tanah yang cukup curam dan hancur karena jalan ini juga dilewati mobil.


Pos Terakhir NGEHE 1 – Saung Seng

Disaung Seng ini kami beristrahat cukup lama, karena track Ngehe 1 bener-bener Ngehe !!!

Perjalanan melintasi Track NGEHE 2 berupa jalan tanah dengan tanjakan yang cukup curam, ada 2 alternatif melalui NGEHE 2 ini, yang pertama jalan tanah namun memotong atau jalan makadam tetapi memutar, kami mengambil alternatif jalan tanah. 50% tidak Gowesable … terlalu curam untuk ukuran pemula seperti saya dan licin karena bekas hujan.


Narsis di perjalanan Ngehe 2


Foto bersama Suhu Om Hendro

Track berikutnya yang dilalui 80% turunan dengan bervariasi medan, antara lain tanah, batu yang sangat licin dan lumpur. Pada track ini ada sedikit jalan yang rusak karena juga dilalui oleh komunitas motor trail … di track ini kita bisa mengeksplor kemampuan kita dalam mengahadapi medan turunan ….. sumpah mantap habis …

Hingga kami menemui jalan beraspal …. perjalanan di jalan beraspal ini kita tempuh kurang lebih 7-8 km hingga Gadog, merupakan track pelepas dahaga … hahahahaha


berikut kira-kira Track RA-Gadok (track sebenarnya yg kami lalui menyusul, masih di GPS Mas Esaf)

Djoko Santoso,
mengucapkan terima kasih kepada :
– Allah SWT
– Istri dan anak2 tercinta yang telah mensuport
– Teman-teman Robek atas penjelasan track dan advis-nya
– Team Gowes Salemba yang gagah perkasa
– Om Ponco yang menemani gowes hingga Ngehe 1

dan mengucapkan terima kasih yang sangat special kepada :
– Om Hendro Purwanto yang dengan sangat-sangat sabar memandu dan mngajari kami bagaimana ber-offroad ria. salut !!! semoga Allah SWT memberikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah.

Category: gowes | LEAVE A COMMENT
February 1

Kesalahan Indah dengan KHS 604

KHS 604,

Sama sekali tidak terpikir untuk memilikinya ….
Dana yang saya punya cukup mepet, saya hanya berani mimpi punya sepeda lokal atau non lokal tapi grade bawah dan HT (hardtail)

Seperti biasa saya diskusi dengan teman sebelum membeli sepeda, agar dengan dana yang cukup minimum mendapatkan sepeda yang memiliki value yang optimum.

Hal pertama yang saya pikirkan adalah beli full bike (sepeda jadi bukan merakit sendiri) karena saa sama sekali tidak pernah ber-mtb ria, jadi jika harus milih part sepeda pasti tidak bakalan mengerti. Pilihan Specialised Hardrock 2010 atau Louis Garneau

Temen menyarankan beberapa piihan …. tetapi dengan pertimbangan tertentu dll, akhirnya saya berbulat tekat memilih Poligon Collusus AM 2.0, framenya sangat bagus dan laki-laki banget, bahkan saya sudah melakukan penawaran kebeberapa toko sepeda, tetapi barangnya belum tersedia, karena harus inden. Yang membuat kurang mantap dengan sepeda ini hanyalah warnanya saja, biru muda.

Di awal Tahun  tanggal 3 Januari 2010, Komunitas Jalur Pipa Gas (JPG), mengadakan event “Pasar Sepeda”, karena masih libur kerja, saya dan 2 rekan saya berkunjung kesana untuk melihat-lihat saja. Dan saya bisa menahan diri untuk hanya melihat-lihat saja, tidak beli sepeda, tetapi helm michelin kebeli .. hahahaha.

Setelah dari JPG saya diajak oleh rekan saya untuk jalan-jalan ke Bagus Bike, ah gak masalah kesana .. kan cuman lihat-lihat …..

Masuk toko … gila, gak ada speda jelek, bagus bener sepeda-sepedanya, seperti nama tokonya.
Seperti ‘setan-setan’ lainnya, awalnya saya disuruh nyuba salah satu sepeda ….. saya nyuba KHS XCT 535, wah mantap banget sepeda ini ….. dan langsung tertarik.

Tawar menawar terjadi …. tetep dana tidak cukup, mau nekat takut dapur tidak ngepul … hehehehe.
Tetapi tekat [atau nafsu ya?] untuk mendapatkan sepeda itu semakin inggi, apalagi ‘setan’ dikiri dan dikanan terus mengganggu.
Agar mendapatkan apa yang saya inginkan akhirnya saya mengalah sedikit, dengan mengganti atau down grade frame-nya dari XCT 535 menjadi XC 604, tetapi semua perabotan yang ada di XCT 535 dipindahkan ke XC 604, maka terjadilah ….. deal !!!!!


lagi proses downgrade

Pulang dengan senyum ceria membawa sepeda baru dan helm baru ….
mantapppppp !!


bersanding dengan seli[ngkuhan]

review sepeda nanti ahhh, ini kan hanya cerita bagaimana mendapatkannya dan bagaimana ‘setan’ begitu berpengaruh, sehingga budget harus meningkat hingga 210%


duh gagahnya ……

asem … ini yang dinamakan ‘Kesalahan Indah’ seperti lagunya Numata